Iran Tingkatkan Operasi Keamanan
Pemerintah Iran memperketat langkah pengamanan di wilayah tenggara negara itu menyusul meningkatnya ancaman kelompok bersenjata di kawasan perbatasan. Ketua Komite Keamanan Parlemen Iran, Ibrahim Azizi, menegaskan bahwa militer tidak akan membiarkan gangguan keamanan mengancam stabilitas nasional.
Mengutip Al Mayadeen pada 13 Oktober, Azizi menilai aktivitas kelompok anti-revolusi di perbatasan berpotensi berkembang menjadi perang hibrida yang diduga melibatkan dukungan dari pihak asing dan kelompok regional.
Iran kini memprioritaskan percepatan pembangunan serta penutupan jalur perbatasan timur untuk mencegah infiltrasi dan masuknya ancaman dari luar negeri.
Langkah tersebut menyusul serangkaian operasi intelijen Iran. Pada akhir September, Kementerian Intelijen mengumumkan pembongkaran tiga sel jaringan teroris yang diduga merencanakan serangan terhadap pejabat keamanan, fasilitas militer, dan infrastruktur penting. Pada awal Oktober, operasi lanjutan di Provinsi Sistan dan Baluchestan juga dilaporkan menargetkan sejumlah kelompok bersenjata, dengan penyitaan senjata api dan amunisi.
Yaman Klaim Serangan Rudal dan Drone terhadap Pasukan Saudi
Di tengah meningkatnya ketegangan regional, angkatan bersenjata Yaman juga mengumumkan operasi militer terhadap pasukan Arab Saudi.
Juru bicara militer Yaman, Yahya Saree, menyatakan pada 13 Oktober bahwa pasukannya melancarkan serangan menggunakan enam rudal balistik dan dua drone tempur yang diarahkan ke lokasi berkumpulnya tentara Saudi di Ras al-Ara dan Al-Saqiyah.
Menurut klaim pihak Yaman, serangan tersebut menewaskan dan melukai puluhan tentara Saudi. Yaman juga menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menghadang jet tempur Saudi yang berupaya melakukan serangan balasan. Klaim tersebut belum dapat dipastikan secara independen berdasarkan informasi dalam laporan yang tersedia.
Saree turut memperingatkan warga asing dan perusahaan internasional agar berhati-hati terhadap aktivitas penerbangan dan penggunaan bandara di Arab Saudi. Namun, ia menyatakan bahwa wilayah udara Makkah dan Madinah dikecualikan dari ancaman serangan.
Hingga kini, klaim mengenai serangan, dampak terhadap pasukan Saudi, serta kondisi keamanan bandara perlu dikonfirmasi melalui sumber independen. Perkembangan ini menunjukkan meningkatnya risiko keamanan di kawasan Timur Tengah, terutama ketika ketegangan perbatasan dan konflik regional berlangsung secara bersamaan.
