TEHERAN — Iran mengklaim telah mengerahkan lebih dari 51 unit tempur dan sekitar 39.000 personel militer untuk memperkuat pertahanan di berbagai wilayah strategis, termasuk kawasan perbatasan hingga pesisir Makran. Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi Teheran untuk mengantisipasi kemungkinan serangan darat.
Komandan Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi, menyatakan bahwa pengerahan pasukan tersebut berhasil menggagalkan rencana musuh yang diduga ingin memanfaatkan serangan udara sebagai jalan masuk bagi kelompok bersenjata ke wilayah Iran.
Menurut laporan Mehr News Agency, pasukan ditempatkan di sejumlah kawasan, mulai dari wilayah barat daya, provinsi Azerbaijan Barat dan Timur, Sistan-Baluchestan, hingga pesisir Makran.
Iran Perkuat Strategi Pertahanan
Militer Iran menyebut pengalaman dari konflik sebelumnya menjadi bahan evaluasi untuk memperbarui strategi pertahanan. Langkah yang dilakukan meliputi penataan kembali formasi tempur, penguatan posisi di wilayah perbatasan, serta peningkatan kesiapan pasukan khusus dan unit gerak cepat.
Teheran menegaskan bahwa angkatan bersenjatanya siap menghadapi berbagai kemungkinan ancaman. Namun, klaim mengenai keberhasilan menggagalkan rencana invasi tersebut masih merupakan pernyataan pihak Iran dan belum dapat dianggap sebagai hasil verifikasi independen.
Israel Pantau Perkembangan Situasi
Di tengah peningkatan kesiapan militer Iran, perhatian juga tertuju pada Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu disebut menggelar pembahasan keamanan bersama sejumlah pejabat terkait untuk meninjau perkembangan situasi dan kemungkinan langkah militer berikutnya.
Meski demikian, belum ada informasi terverifikasi yang memastikan bahwa Israel telah mengambil keputusan resmi untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran. Klaim mengenai pertimbangan politik domestik Netanyahu juga perlu dipahami sebagai laporan yang membutuhkan konfirmasi lebih lanjut.
Kesiagaan militer kedua negara menambah kekhawatiran akan kemungkinan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Iran Kritik Ketergantungan Negara Tetangga pada AS
Selain memperkuat pertahanan, Iran kembali meminta negara-negara di kawasan agar tidak terlalu bergantung pada jaminan keamanan Amerika Serikat.
Juru bicara senior Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, menyatakan bahwa negara-negara regional berisiko menanggung dampak jika terus mengandalkan perlindungan Washington. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pesan yang dilaporkan Tasnim News Agency pada 12 Oktober 2026.
Shekarchi juga menuduh Amerika Serikat berusaha keluar dari krisis yang dihadapinya melalui tindakan yang disebut Iran sebagai penyelundupan bahan bakar dan aktivitas ilegal di laut. Tuduhan tersebut merupakan klaim pihak Iran.
Ia turut membantah pernyataan Amerika Serikat mengenai kendali atas Selat Hormuz. Menurut Teheran, klaim Washington tidak mencerminkan situasi sebenarnya di kawasan tersebut.
Ketegangan Regional Masih Membayangi
Iran menegaskan bahwa militernya kini lebih siap menghadapi ancaman dan tidak akan membiarkan Amerika Serikat maupun Israel menentukan tatanan politik dan keamanan kawasan sesuai kepentingan mereka.
Di sisi lain, meningkatnya kesiagaan militer dan kerasnya pernyataan dari berbagai pihak menunjukkan bahwa ketegangan belum mereda. Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada langkah militer, respons diplomatik, serta upaya untuk mencegah salah perhitungan yang dapat memicu konflik lebih luas.
Sumber rujukan: Laporan Mehr News Agency mengenai pengerahan pasukan Iran dan laporan Tasnim News Agency mengenai pernyataan Jenderal Abolfazl Shekarchi.
